NU Jatirogo Tempo Dulu
Oleh: Ahmad Syahrul Ansori, Ketua LTN NU Jatirogo
"Riyen niku sedoyo sareng-sareng bersatu khidmah dateng NU!" Persaksian Mbah Ngalim yang bisa menjadi pelajaran penting dan berharga bagi kita generasi muda NU saat ini.
Mengawali cerita NU di Kecamatan Jatirogo tidak bisa terlepas dari peran para Kiai kala itu, terlebih Mbah H. Aboel Chasan. Sosok dari kalangan pengusaha jagal, beliau khidmahkan diri, tenaga, pikiran sampai harta untuk NU dan masyarakat Jatirogo. Tentu, di bawah bimbingan syuriah Mbah Kiai Abul Khoir Suwedang dan para masayikh lainnya yang ada di Jatirogo.
Dahulu, kontribusi Mbah Aboel Chasan sangat luar biasa. Setiap acara NU tidak tidak perlu bantingan, semua akomodasi dan keperluan dari sokongan Mbah Aboel Chasan. "Hari ini, saya belum saya temukan sosok seperti Mbah Abu!" Ungkap Mbah Ngalim dengan dialek Jawa krama.
Lahirnya PCNU Cabang Senori-Bangilan di tahun 1949 lahirkan semangat kebersamaan di para tokoh dan pejuang NU di Jatirogo. Bersama-sama memikirkan kemaslahatan umat melalui pendidikan atau kegiatan keagamaan lainnya.
Secara resmi, NU Jatirogo diperkirakan lahir di tahun 1951. Selain sebagai wadah pejuang ajaran ahlusunahwaljamaah, NU Jatirogo yang digerakkan oleh Mbah Abul Chasan dan Mbah Khoir juga berjuang merebutkan dominasi masyarakat di tengah basis PKI terbanyak nomor dua di Tuban.
Berkat kedekatan Mbah Aboel Chasan dengan berbagai lapisan masyarakat termasuk dari kalangan PNI dan etnis Cina. Para tokoh di berbagai desa bersatu untuk khidmah kepada masyarakat, salah satu capaian Mbah Aboel kala itu membeli tanah dan bangunan SMP Nasional dan diganti dengan "SMP NU". Nantinya, kita kenal dengan MTs Salafiyah Asy-Syafi'iyah.
Semua pihak bergotong royong untuk khidmah melalui pendidikan, baik melaui pendidikan formal dan non formal melalui pesantren dan surau-surau kecil.
Estafet kepengurusan sepeninggal Mbah Aboel Hasan, dilanjutkan oleh Mbah Ali Mas'ud. Di bawah bimbingan para masyayikh; Mbah Ali Afandi, Mbah Abul Khoir, dan masyayikh lainnya. Seminggu sebelum meninggal, Mbah Aboel Chasan memanggil beberapa penggerak NU di masa itu, Mbah Abdul Wahid Choir, Mbah Fathurrahman, dan Mbah Ngalim. Ketiga mendapatkan pesan khusus untuk tetap semangat berjuang di NU.
Baru kemudian estafet dilanjutkan oleh salah satu putra Mbah Aboel Chasan; Pak Muchid Hasan yang sebelumnya menjabat sebagai sekretaris masa Mbah Ali Mas'ud, di bawah bimbingan Mbah Arifin dan masyayikh lainnya sebagai syuriah.
Baru pada tahun 2003, NU berbenah bersama Mbah Najib sebagai ketua tanfiziah. Periode khidmah beliau terbilang terlama setelah Mbah Aboel Chasan sang kakek. Kalau Mbah Aboel Hasan khidmah di NU selama 30 tahun, kalau Mbah Najib khidmah selama 15 tahun.
Periode awal, Mbah Najib didampingi oleh Mbah Fathurrahman sebagai syuriyah. Periode selanjutnya Mbah Abdur Razaq mendampingi sebagai syuriyah. Khidmah Mbah Najib kepada NU sebagai tanfiziyah terbilang 2003-2018.
Tongkat estafet selanjutnya dilanjut oleh H. Bisri di bawah bimbingan Mbah Abdur Razaq sebagai syuriyah. Hari ini, H. Darwanto menahkodahi MWCNU Jatirogo bersama Mbah Mahfudz Sholeh sebagai Rais Syuriyah.
Perjalanan khidmah NU tentu dari masa ke masa pasti memiliki dinamika yang berbeda-beda. Namun, semangat yang dicontohkan oleh para pendahulu seharusnya menjadi semangat bagi kita--generasi hari ini--untuk khidmah.
Menampaki abad kedua, NU Jatirogo tidak boleh tercerabut dari akarnya, seperti kalam bijak.
من ترك الصول ØØ±Ù… عن الوصول.
Maka, sejak dahulu NU Jatirogo, melibatkan banyak pihak, semua komponen bergerak bersama tanggalkan egosentrisnya. Sehingga peran para kiai desa, pengasuh pondok, para guru, dan para penggerak organisasi tidak bisa dipisahkan. Malah harus disatukan dalam gerak khidmah nyata demi kemaslahatan Islam aswaja dan kemakmuran masyarakat Jatirogo.
Estafet kepengurusan sepeninggal Mbah Aboel Hasan, dilanjutkan oleh Mbah Ali Mas'ud. Di bawah bimbingan para masyayikh Mbah Abul Khoir, mbah masmuh dan masyayikh lainnya. Seminggu sebelum meninggal, Mbah Aboel Chasan memanggil beberapa penggerak NU di masa itu, Mbah Abdul Wahid Choir, Mbah Fathurrahman, dan Mbah Ngalim. Ketiga mendapatkan pesan khusus untuk tetap semangat berjuang di NU.
KH.ali Mas'ud didapuk menjadi ketua tanfidziyah MWC NU kedua bersama kiyai Masmuh bin Kiyai haji Ma'ruf Sugihan yang sering kita hauli di maqbaroh Desa sugihan. selanjutnya berturut-turut dinakhodai Kyai Haji ali afandi, Kyai Haji arifin.
Baru kemudian estafet dilanjutkan oleh salah satu putra Mbah Aboel Chasan; Pak Muchid Hasan yang sebelumnya menjabat sebagai sekretaris masa Mbah Ali Mas'ud, di bawah bimbingan Mbah Arifin dan masyayikh lainnya sebagai syuriah.
Baru pada tahun 2003, NU berbenah bersama Mbah Najib sebagai ketua tanfiziah. Periode khidmah beliau terbilang terlama setelah Mbah Aboel Chasan sang kakek. Kalau Mbah Aboel Hasan khidmah di NU selama 30 tahun, kalau Mbah Najib khidmah selama 15 tahun.
Periode awal, Mbah Najib didampingi oleh Mbah Fathurrahman sebagai syuriyah. Periode selanjutnya Mbah Abdur Razaq mendampingi sebagai syuriyah. Khidmah Mbah Najib kepada NU sebagai tanfiziyah terbilang 2003-2018.
Tongkat estafet selanjutnya dilanjut oleh H. Bisri di bawah bimbingan Mbah Abdur Razaq sebagai syuriyah. Hari ini, Haji. Darwanto menahkodahi MWC NU bersama Mbah kiyai haji Mahfudz Sholeh sebagai Rais Syuriyah.
Perjalanan khidmah NU tentu dari masa ke masa pasti memiliki dinamika yang berbeda-beda. Namun, semangat yang dicontohkan oleh para pendahulu seharusnya menjadi semangat bagi kita--generasi hari ini untuk khidmah.
Menampaki abad kedua, NU Jatirogo tidak boleh tercerabut dari akarnya.
Maka, sejak dahulu NU Jatirogo, melibatkan banyak pihak, semua komponen bergerak bersama tanggalkan egosentrisnya. Sehingga peran para kiai desa, pengasuh pondok, para guru, dan para penggerak organisasi tidak bisa dipisahkan. Malah harus disatukan dalam gerak khidmah nyata demi kemaslahatan Islam aswaja dan kemakmuran masyarakat Jatirogo.



0 Komentar